SOPPENG — Mahasiswa Proses Belajar Lapangan (PBL) II menggelar Seminar Akhir PBL II pada Jumat (16/1/2026) sebagai penutup rangkaian pembelajaran lapangan di Kelurahan Ujung, Kecamatan Lilirilau, Kabupaten Soppeng.
Kegiatan ini menjadi forum resmi pemaparan hasil pemetaan aset masyarakat (asset mapping) sekaligus penyampaian rekomendasi solusi atas berbagai permasalahan kesehatan yang teridentifikasi selama pelaksanaan PBL I dan PBL II.
Seminar akhir tersebut dihadiri oleh pihak kelurahan, tokoh masyarakat, kader kesehatan, serta perwakilan warga Kelurahan Ujung. Dalam forum ini, mahasiswa mempresentasikan hasil pengumpulan dan analisis data lapangan yang dilakukan selama kurang lebih 15 hari, mulai dari identifikasi masalah kesehatan, analisis akar masalah, hingga perumusan rekomendasi solusi yang dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi pemangku kepentingan setempat.
Kegiatan PBL II ini dilaksanakan oleh mahasiswa lintas departemen Fakultas Kesehatan Masyarakat, yakni Ash Habul Kahfi Fahlefi dan Amira Fatiha Ahmad (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), Rifqa Alifsyah Tamher Ramleew (Kesehatan Lingkungan), Nurul Alya Amalia (Manajemen Rumah Sakit), Nur Atikah Firdaus (Administrasi dan Kebijakan Kesehatan), Ilfah Zahra (Epidemiologi), serta Jean Malika (Biostatistik). Seluruh rangkaian kegiatan berada di bawah supervisi Adelia Undang Sari Mangilep, SKM, MARS.
Selama pelaksanaan PBL II, mahasiswa menerapkan pendekatan Asset Based Community Development (ABCD) dengan memetakan berbagai aset yang dimiliki Kelurahan Ujung, meliputi aset individu, sosial, budaya, ekonomi, serta sarana dan prasarana. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa masyarakat Kelurahan Ujung memiliki potensi yang cukup kuat, di antaranya keberadaan kader kesehatan yang aktif, jejaring sosial dan budaya gotong royong yang masih terpelihara, ketersediaan fasilitas umum yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan kesehatan, serta potensi ekonomi rumah tangga yang dapat mendukung program berbasis komunitas.
Berdasarkan hasil asset mapping dan analisis akar masalah menggunakan metode fishbone, mahasiswa merumuskan solusi terhadap tiga isu kesehatan utama, yakni hipertensi, pengelolaan sampah, dan demam berdarah dengue (DBD). Rekomendasi yang disusun menitikberatkan pada upaya promotif dan preventif, antara lain penguatan peran kader dan keluarga dalam pengendalian hipertensi, optimalisasi pemanfaatan aset lingkungan dan fasilitas umum untuk pengelolaan sampah berbasis masyarakat, serta peningkatan partisipasi warga dalam kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) sebagai langkah pencegahan DBD.
Pelaksanaan PBL II di Kelurahan Ujung sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDGs 11 mengenai Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, serta SDGs 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah kelurahan.
Melalui Seminar Akhir PBL II ini, mahasiswa berharap hasil pemetaan aset dan rekomendasi solusi yang telah dirumuskan dapat menjadi masukan strategis bagi pemerintah kelurahan dan instansi terkait dalam perencanaan program kesehatan ke depan. Selain sebagai sarana pembelajaran kontekstual, kegiatan PBL II diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan solusi kesehatan berbasis potensi lokal di Kelurahan Ujung. (*)

SM Network