SOPPENG - Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) menggelar Seminar Akhir Praktik Belajar Lapangan (PBL) II di Aula Kantor Desa Maccile, Kamis, 15 Januari 2026. Kegiatan yang dimulai pukul 13.00 WITA ini menjadi penutup rangkaian PBL II sekaligus forum pemaparan hasil pemetaan aset kesehatan masyarakat desa.
Seminar tersebut dihadiri oleh 15 peserta yang terdiri atas Kepala Desa Maccile, Sekretaris Desa, perangkat desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, bidan desa, serta kader Posyandu. Kehadiran lintas sektor ini mencerminkan keterlibatan dan dukungan aktif pemerintah desa serta unsur terkait dalam upaya penguatan pembangunan kesehatan berbasis masyarakat.
Kegiatan diawali dengan sambutan Kepala Desa Maccile yang menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa FKM Unhas atas kontribusi dan keterlibatan langsung selama pelaksanaan PBL II. Ia menilai kehadiran mahasiswa telah memberikan perspektif baru dalam melihat potensi desa, khususnya yang berkaitan dengan pengembangan program kesehatan masyarakat.
Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Supervisor PBL II, Dr. Apik Indarty Moedjiono, SKM, M.Si. Dalam arahannya, ia menekankan pentingnya pendekatan pemetaan aset masyarakat sebagai strategi utama dalam perencanaan program kesehatan. Menurutnya, penguatan aset lokal menjadi kunci agar intervensi kesehatan yang dirancang dapat bersifat realistis, partisipatif, dan berkelanjutan.
Dalam sesi pemaparan, mahasiswa menjelaskan hasil pemetaan aset masyarakat yang telah dilakukan selama kurang lebih delapan hari pelaksanaan PBL II di Desa Maccile. Pemetaan tersebut mencakup potensi sumber daya manusia, institusi lokal, serta fasilitas yang dapat dimanfaatkan sebagai dasar perencanaan program kesehatan berbasis kebutuhan dan kekuatan lokal.
Seminar Akhir PBL II ini bertujuan untuk membangun pemahaman bersama antara mahasiswa dan masyarakat terkait pemanfaatan aset desa dalam upaya pemecahan masalah kesehatan. Selain itu, mahasiswa juga menyampaikan saran dan rekomendasi awal sebagai bahan pertimbangan dalam perencanaan intervensi kesehatan yang akan dilanjutkan pada tahap PBL III.
Kegiatan diakhiri dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Dalam sesi tersebut, bidan desa memberikan masukan agar mahasiswa dapat menggali akar permasalahan kesehatan secara lebih spesifik serta menyajikan data dan alternatif intervensi yang lebih akurat pada pelaksanaan PBL III mendatang.
Melalui Seminar Akhir PBL II ini, diharapkan hasil pemetaan aset masyarakat Desa Maccile dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai landasan perencanaan dan pelaksanaan program kesehatan yang lebih efektif, kontekstual, dan berkelanjutan dengan dukungan penuh seluruh pemangku kepentingan desa. (*)

SM Network